Terong ingin ganti gaya rambut. Ibu bilang itu sulit. Terong jadi sedih. Ah, tunggu! Mungkin Brokoli punya saran. Ayo, pergi ke Salon Brokoli!
Ling adalah sebuah kincir angin di kebun bunga Pak Wim. Selain Ling, ada juga Ting, Bing dan Ming. Kekuatan kincir mereka bisa menyalurkan air ke petak-petak kebun bunga. Namun, tiba-tiba Ming dan Bing malas berputar. Ada apa dengan Ming dan Bing? Akankah mereka berputar lagi?
Sam adalah boneka prajurit yang bertugas menjaga istana boneka. Suatu hari, Sam kehilangan salah satu kancing bajunya. Hanya ada satu teman yang dapat menolong Sam. Siapakah teman Sam itu? Maukah ia menolong Sam? Apakah yang dilakukan teman Sam itu tulus?
Kru adalah sebuah kapal laut kecil. Ia bertugas mengantarkan para wisatawan. Suatu hari, ia harus berlayar ke Pulau Hope. Laut di Pulau Hope terkenal dengan arus, badai, dan ombaknya yang besar. Dapatkah Kru menantang badai dan sampai di Pulau Hope?
Macan Tutul suka mengaum dari siang sampai malam. Aumannya mengganggu hewan lain di hutan. Namun, Macan Tutul tidak peduli. Dia malah mengaum semakin keras. Rupanya, aumannya mengundang pemburu liar. Apakah Macan Tutul akan tertangkap pemburu itu?
Penduduk Desa Kemingking gelisah. Hewan ternak mereka terus menghilang. Ternyata itu ulah si Harimau. Dia sudah memangsa hewan ternak para penduduk. Lalu, bagaimana cara penduduk mengusir si Harimau? Fabel 37 Provinsi terdiri dari 37 judul dengan tokoh binatang endemik dari seluruh provinsi di Indonesia. Terdapat fakta unik di masing-masing cerita.
Sura dan Baya tak pernah akur. Mereka selalu bertengkar memperebutkan mangsa. Suatu ketika, mereka membuat perjanjian untuk membagi wilayah kekuasan mereka. Apakah akhirnya mereka bisa hidup dengan tenang?
Keluarga Yegaku dilanda kelaparan. Ibu Yegaku juga sedang sakit keras. Yegaku terpaksa pergi ke desa sebelah untuk mencari makan. Tak disangka, dia berhasil menangkap seekor dingisou. Namun, ada bahaya yang menanti jika Dingisou ditangkap. Apa yang akan terjadi?
Buku ini terdapat anak bernama Imron, Sohari, dan Amar mereka ber tiga teman satu kelas. Usia mereka masih belasan tahun. Namun, mereka sudah berani menjadi joki karapan sapi. Wah, hebat, ya? Apa mereka tidak takut jatuh? Yuk, ikuti keseruan mereka saat berlatih menjadi joki! Selain itu, mereka juga sering menonton pertunjukan wayang yang ada di lingkungan rumahnya. Gimana keseruannya ya? Yuk, …
“Randi dan Binsar sedang menonton tradisi lompat batu atau fahombo. Pada tradisi itu, para pemuda melompati sebuah batu yang tingginya mencapai dua meter. Wah, apa mereka tidak takut jatuh atau cedera? Dan, bagaimana mereka melakukannya? Cari tahu, yuk!”